Gue tinggal di Jakarta. Punya satu anak umur lima tahun, istri yang kerja kantoran, dan tabungan liburan yang... ya, seadanya. Setiap kali buka Instagram dan lihat foto keluarga teman-teman lagi liburan di hotel bintang lima, gue cuma bisa napas panjang. Bukan iri, tapi mikir: masa iya liburan bareng keluarga harus nunggu bonus tahunan?
Jawabannya jelas nggak. Tahun lalu gue sekeluarga nekat liburan ke Yogyakarta dengan budget yang kalau dihitung, lebih murah dari belanja bulanan di supermarket langganan. Dan yang paling penting: anak gue tetap senang, istri gue tetap puas, dan gue nggak stres mikirin kartu kredit.
Baca Juga: comtotomobiledigital.website
Baca juga: Sebulan Jalan-jalan Sama Bayi: Rutinitas Baru yang Tak Kami Duga
Ini yang gue pelajari dari perjalanan itu.
Pilih Waktu yang "Salah" — Justru Itu Emas
Semua orang tahu liburan ke Jogja paling enak itu pas musim kemarau, sekitar Juni sampai Agustus. Dan justru itu masalahnya. Harga tiket pesawat bisa naik dua kali lipat, hotel penuh, dan Malioboro jadi kayak pasar malam di malam tahun baru.
Gue dan istri akhirnya coba keberuntungan di bulan Februari. Awalnya ragu, karena katanya musim hujan. Tapi ternyata hujan di Jogja itu nggak sepanjang hari. Pagi sampai siang biasanya cerah, hujan turun sore atau malam. Anak gue malah lebih happy karena nggak kepanasan.
Yang lebih penting: tiket pesawat Jakarta-Jogja yang biasanya Rp 1,2 juta pulang pergi per orang, kami dapat Rp 650 ribu. Hotel bintang tiga di area Prawirotaman yang biasanya Rp 500 ribu per malam, kami bayar Rp 280 ribu. Itu selisih yang lumayan banget buat keluarga kecil.
Tips praktisnya: pantau harga tiket di hari Selasa atau Rabu. Dari pengalaman gue, harga sering lebih rendah dibanding weekend.
Nginep di Guesthouse, Bukan Hotel Bintang Lima
Ini mungkin terdengar klise. Tapi gue mau cerita spesifik.
Waktu itu kami hampir book hotel chain terkenal di daerah Malioboro. Harganya Rp 750 ribu per malam, kamarnya standar, sarapan nasi goreng. Lalu istri gue nemu guesthouse kecil di Prawirotaman yang dikelola keluarga lokal. Kamarnya sederhana tapi bersih, ada dapur bersama, dan yang bikin anak gue betah: ada kucing di halaman.
Kami bayar Rp 250 ribu per malam. Tiga malam berarti hemat Rp 1,5 juta. Uang itu kami pakai buat makan di tempat-tempat yang lebih enak dan beli oleh-oleh lebih banyak.
Guesthouse juga punya kelebihan lain: pemiliknya sering kasih rekomendasi tempat makan lokal yang nggak ada di Google. Kami dikasih tahu warung sate klathak di daerah Imogiri yang harganya Rp 15 ribu per porsi dan rasanya... ya ampun, jauh lebih enak dari restoran turis.
Yang perlu diperhatikan saat pilih guesthouse
- Cek review terbaru, bukan cuma rating bintangnya
- Pastikan ada air panas — penting kalau bawa anak kecil
- Tanya apakah ada kulkas atau dapur bersama, bisa hemat buat sarapan anak
- Pilih yang lokasinya dekat transportasi umum atau area makan
Transportasi: Ojol dan Bus Trans Jogja Itu Sahabat
Banyak keluarga yang langsung sewa mobil plus driver begitu sampai di Jogja. Gue ngerti sih, praktis. Tapi harganya Rp 500-700 ribu per hari. Kalau liburan empat hari, itu Rp 2-2,8 juta cuma buat transportasi.
Kami memilih kombinasi ojol dan Trans Jogja. Untuk jarak dekat seperti Malioboro ke Keraton, ojol cuma Rp 10-15 ribu. Untuk jarak jauh seperti ke Candi Prambanan, kami naik Trans Jogja dengan tarif Rp 3.500 per orang. Anak gue malah excited naik bus — buat dia itu bagian dari petualangan.
Total transportasi kami selama empat hari: sekitar Rp 350 ribu. Bandingkan dengan sewa mobil yang bisa tujuh kali lipatnya.
Satu catatan: kalau bawa anak di bawah tiga tahun atau orang tua, sewa mobil mungkin lebih masuk akal. Tapi kalau anak sudah usia sekolah dan bisa jalan kaki lumayan jauh, ojol plus bus itu pilihan yang sangat masuk akal.
Makan di Warung, Bukan di Restoran Turis
Ini bagian yang paling gue suka dari liburan ke Jogja. Makanan di sana itu murah dan enak, asal kamu mau keluar sedikit dari jalur utama.
Di Malioboro, seporsi gudeg bisa Rp 40 ribu. Tapi kalau kamu jalan lima menit ke gang samping, harganya turun jadi Rp 15 ribu dengan porsi yang sama, bahkan lebih enak. Kami sarapan di warung dekat guesthouse setiap pagi: nasi goreng, telur, teh hangat, total Rp 45 ribu untuk bertiga.
Makan siang kami sering di angkringan. Anak gue sampai sekarang masih ingat nasi kucing dan sate usus yang dia makan di angkringan dekat Tugu. Bukan karena makanannya mewah, tapi karena suasananya seru — duduk lesehan, lampu temaram, orang-orang ngobrol santai.
Total pengeluaran makan kami selama empat hari: sekitar Rp 600 ribu untuk bertiga. Di Jakarta, itu cuma cukup buat dua kali makan di mall.
Liburan ke Jogja bareng keluarga kecil sebenarnya bukan soal seberapa dalam kantong kamu. Tapi soal seberapa mau kamu keluar dari zona nyaman "paket turis" yang serba instan. Dari pengalaman gue, justru momen-momen "nggak terencana" itulah yang paling diingat anak dan istri. Bukan lobby hotel yang mengkilap, tapi obrolan sama pemilik guesthouse sambil minum teh di teras.